Esok paginya...
Pengintai dari pasukan Louw datang memberi laporan. ”Tentara Cee yang dipimpin oleh
Yong Lim sudah datang menantang berperang.”
Mendengar laporan itu, Raja Louw Cong Kong geram. ”Sekarang kita labrak dulu tentara Cee yang ada di luar kota! Yang di dalam kota jika mendengar tentara di luar sudah dihajar, pasti ketakutan!” kata Raja Louw.
Raja Louw memimpin tentaranya maju bersama Cin Cu dan Liang Cu maju ke medan perang.
Sesudah kedua pasukan mereka berhadapan, Raja Louw Cong Kong berteriak minta Yong
Lim keluar menemuinya. Yong Lim buru-buru keluar dari dalam barisannya, dia sengaja
bertingkah kocak.
”Hai, pemimpin pengkhianat! Kau yang minta seorang raja kepadaku. Mengapa pikiranmu
berubah? Mana kesetiaanmu pada negara?” tegur Raja Louw Cong Kong.
Yong Lim pura-pura salah tingkah. Seolah dia merasa malu ditegur demikian. Yong Lim
buru-buru menundukin kepalanya terus pergi. Raja Louw memerintahkan Co Moay mengejar
Yong Lim. Tiba-tiba Yong Lim membelokan kereta perangnya. Dia melawan Co Moay.
Tetapi baru bertarung beberapa puluh jurus, Yong Lim melarikan kereta perangnya.
Co Moay mengeluarkan seluruh kegagahannya. Dia putarkan senjata Hong-tian-keknya
mengejar Yong Lim.
Melihat pasukan musuh mengejar terus, Pao Siok Gee mengirim pasukan Cee mengepung
musuh. Akhirnya Co Moay terkepung di dalam barisan musuh. Dia coba menerjang ke kiri
dan kanan, tetapi tidak berhasil meloloskan diri. Tubuhnya telah terkena oleh dua buah anak panah. Sesudah kehabiskan tenaga, baru Co Moay bisa meloloskan diri.
Sementara itu Cin Cu dan Liang Cu khawatir Co Moay celaka. Mereka maju akan membantu.
Baru saja kereta perangnya maju, tiba-tiba dari bagian kiri dan kanan terdengar suara meriam meledak. Dari dua jurusan Leng Wat dan Tiong Sun Ciu dan pasukan perangnya datang menyerang. Pao Siok Gee pun memimpin pasukan perang bagian tengah datang mengamuk di tengah pasukan negeri Louw.
Oleh karena diserang dari tiga jurusan oleh musuh, tentara Louw tidak sanggup melawan. Sebagian besar dari mereka lari simpang-siur menyelamatkan diri.
Pao Siok Gee mengeluarkan perintah menangkap Raja Louw Cong Kong dengan menjanjikan
hadiah besar bagi yang mampu melakukannya. Maklumat itu segera tersiar di kalangan
tentara Cee sehingga sangat menarik hati mereka.
Melihat gelagat yang kurang baik bagi pihaknya, buru-buru Cin Cu mengambil bendera yang terpasang di kereta Raja Louw Cong Kong. Bendera berwarna kuning dengan dilukis huruf sulam dirobohkan. Tetapi Liang Cu mengambil bendera itu dan dia tancapkan di atas keretanya sendiri.
”Mengapa kau tancapkan bendera Raja Louw di keretamu?” tanya Cin Cu.
”Aku berharap mata musuh salah lihat dan menyangka keretaku ini kereta Raja kita!” kata Liang Cu.
Waktu itu Raja Louw Cong Kong sudah melihat ada bahaya mengancam dirinya. Buru-buru
dia melompat turun dari atas keretanya. Dia pindah ke kereta perang yang kecil. Dengan menyamar sebagai laskar perang biasa dia langsung melarikan diri. Cin Cu mengikuti junjungannnya. Dengan gagah berani dia bertarung agar bisa keluar dari kepungan musuh.
Ketika melihat bendera sulam ada di sebuah kereta musuh, Leng Wat menduga kereta itu
dinaiki oleh Raja Louw Cong Kong. Langsung dia memberi tanda kepada tentaranya untuk
mengepung kereta itu lebih hebat lagi.
Melihat serangan musuh begitu hebat, Liang Cu segera memperlihatkan wajahnya sambil
tertawa. ”Aku adalah panglima Louw! Rajaku sudah pergi jauh!” kata Liang Cu.
Leng Wat kecewa dan sangat mendongkol, dia merasa ditipu. Dia perintahkan tentaranya
menyerang Liang Cu lebih sengit lagi. Dia sendiri segera memutarkan senjatanya menikam musuhnya itu dengan geram.
Meskipun Liang Cu gagah perkasa, dia tidak sanggup bertempur melawan orang yang
jumlahnya banyak sekali. Ditambah lagi Leng Wat memang panglima Cee yang tersohor
gagah berani. Akhirnya Liang Cu yang sangat kelelahan ditawan oleh Leng Wat.
Dengan hebat Tiong Sun Ciu melabrak tentara Louw serta merampas kereta perang juga
senjata mereka.
Tatkala Pao Siok Gee melihat tentara Cee mendapat kemenangan besar, dia memerintahkan anak buahnya membunyikan gembreng untuk menarik mundur tentaranya. Tiong Sun Ciu datang menyerahkan kereta perang dan senjata rampasan. Leng Wat pun menyerahkan Liang Cu yang dia tawan.
Ketika kemenangan besar ini dilaporkan kepada Raja Cee Hoan Kong, tentu saja dia sangat girang. Dia mengeluarkan perintah untuk menebas batang leher Liang Cu. Raja Cee belum mendapat khabar dari dua pasukan yang dipimpin oleh Ong-cu Seng Hu dan Tong Kok Gee. Raja Cee meninggalkan Leng Wat dan Tiong Sun Ciu supaya menjaga di Kian-si. Pasukan besar Raja Cee segera berangkat lebih dulu.
Kemenangan besar Cee atas Louw
Saran Koan Tiong
Sementara itu di tempat Raja Louw Cong Kong dan Pangeran Kiu...
Setelah berjalan sampai di Kian-si, angkatan perang mereka berhenti sejenak. Ketika itu Koan Tiong mengajukan saran.
”Siao Pek baru saja diangkat menjadi raja, hati rakyat belum tetap benar. Kita harus segera menyerang mereka, supaya di dalam kota terjadi huru hara.” kata Koan Tiong.
”Tunggu! Aku rasa tidak ada gunanya kita terburu napsu,” kata Raja Louw. ”Aku tidak setuju dan tidak sependapat dengan rencana Koan Tiong. Lebih baik kita dirikan dulu perkemahan di sini. Kita harus istirahat dulu.”
Sehabis berkata begitu Raja Louw Cong Kong mengeluarkan perintah. ”Segera dirikan
perkemahan, kalian boleh istirahat!” kata Raja Louw.
Perkemahan Raja Louw didirikan di depan kemah Pangeran Kiu. Benteng yang satu dan yang lainnya saling berpisahan 20 li jauhnya.
Raja Louw Cong Kong kaget
Dikisahkan Tiong Sun Ciu yang bergegas menemui rombongan Raja Louw yang ada di tengah perjalanan. Begitu Tiong Sun Ciu dengan Raja Louw langsung dia menyampaikan pesan Raja Cee Hoan Kong.
”Di negeri Cee sekarang telah ada seorang Raja baru, yaitu Pangeran Siao Pek yang bergelar Raja Cee Hoan Kong.” kata Tiong Sun Ciu.
Ketika Raja Louw sudah mendengar keterangan Tiong Sun Ciu, Raja Louw Cong Kong kaget ternyata Pangeran Siao Pek belum mati. Dengan sangat gusar ia berkata, ”Mengangkat seorang raja, seharusnya yang diangkat harus putera yang sulung! Putera yang lebih muda mana boleh diangkat menjadi raja? Pendeknya aku katakan, aku tidak akan menarik tentaraku dengan tangan kosong tanpa hasil dari sini!”
Mendengar ancaman Raja Louw Cong Ong tersebut, Tiong Sun Ciu buru-buru mohon diri akan segera pulang. Sampai di negerinya dia akan menyampaikan ucapan Raja Louw tersebut pada Raja Cee Hoan Kong.
Tak lama Tiong Sun Ciu sudah tiba di negeri Cee. Dia menyampaikan apa yang diucapkan oleh Raja Lauw Cong Kong .Khabar tersebut membuat Raja Cee Hoan Kong ngeri. Dia bertanya pada Pao Siok Gee.
”Balatentara dari negeri Louw tidak mau mundur, sekarang kita harus bagaimana?”
”Dengan tentara pula kita akan lawan mereka!” kata Pao Siok Gee dengan gagah. Pao Siok Gee segera mengeluarkan perintah kepada Yong Lim agar dia membawa pasukan Sian-hong (Pelopor) maju ke medan perang. Ong-cu Seng Hu dengan dibantu oleh Leng Wat mengepalai barisan di sebelah kanan, Tong Kok Gee dengan dibantu oleh Tiong Sun Ciu mengepalai barisan di sebelah kiri. Pao Siok Gee sendiri mengajak Raja Cee Hoan Kong memimpin pasukan bagian tengah. Angkatan perang Cee itu terdiri dari 500 kereta perang dan pasukan berjalan kaki. Sesudah angkatan perang diatur beres, Tong Kok Gee berkata.
”Raja Louw karena menduga kita telah membuat persiapan yang cukup kuat, pasti dia tidak akan langsung menyerang. Aku rasa pasti dia akan mendirikan perkemahan dulu di Kian-si. Di tempat itu mereka gampang mendapatkan air bersih dan rumput untuk makanan kuda-kuda mereka. Kian-si sebuah tempat yang bagus untuk tentara beristirahat. Aku punya usul, entah disetujui atau tidak?” kata Tong Kok Gee.
”Apa usulmu itu? Katakan saja!” kata Pao Siok Gee.
”Jika kita sembunyikan tentara kita di tempat itu dan melabrak mereka saat mereka belum siap sedia, aku yakin mereka akan mendapat kerusakan berat.” kata Tong Kok Gee.
”Ya, betul juga pendapatmu itu,” kata Pao Siok Gee.
Pao Siok Gee menyatakan setuju pada usul Tong Kok Gee yang cemerlang itu. Dia angsung memerintahkan Leng Wat dan Tiong Sun Ciu masing-masing memimpin pasukannya. Mereka diperintahkan bersembunyi di daerah Kian-si yang strategis itu. Sesudah itu Pao Siok Gee masih memerintahkan Ong-cu Seng Hu dan Tong Kok Gee pergi ke lain tempat. Mereka diperintahkan menyerang tentara Louw dari bagian belakang. Meminta Yong Lim untuk menantang perang dan memancing musuh supaya terjebak ke dalam perangkap yang sudah mereka siapkan.
Raja baru Negeri Cee
Apa yang sebenarnya telah terjadi atas Pangeran Siao Pek?
Di luar dugaan Koan Tiong, yang terjadi sebaliknya. Anak panah Koan Tiong ternyata hanya mengenai gaetan ikat pinggang Pangeran Siao Pek!
Karena Pangeran Siao Pek tahu benar ketangkasan Koan Tiong menggunakan busur panah, ketika terkena anak panah dia kaget. Tetapi dia ingat jika tak menggunakan akal dia khawatir dipanah lagi oleh Koan Tiong. Maka seketika itu juga dia gunakan sebuah tipu muslihat. Begitu kena anak panah, Siao Pek buru-buru menggigit ujung lidahnya sehingga berdarah. Lalu dia pura-pura muntah darah sambil pura-pura jatuh dari keretanya.
Sesudah Koan Tiong kabur dan Pao Siok Gee menggetahui muridnya hanya pura-pura mati, dia senang sekali, Pao Siok Gee memuji kecerdikan Siao Pek yang dia anggap sangat pandai. Tetapi dia tetap khawatir Koan Tiong akan kembali lagi. Maka mereka tidak berani ayal lagi. Dia minta Pangeran Siao Pek segera mengganti pakaiannya. Dia juga diminta pindah ke sebuah kereta tertutup. Kemudian rombongan itu berangkat lagi dengan memotong jalan lewat jalan kecil.
Ketika sudah hampir sampai ke kota Lim-cu, Pao Siok Gee lebih dahulu masuk ke dalam kota untuk menemui para menteri negeri Cee. Di hadapan para menteri tersebut Pao Siok Gee memuji-muji kepandaian Pangeran Siao Pek. Pao Siok Gee mengusulkan agar Pangeran Siao Pek-lah yang diangkat menjadi raja di negeri Cee.
Semua menteri tampak masih sangsi, di antaranya lalu ada yang bertanya, ”Apabila Pangeran Kiu datang juga ke sini? Bagaimana kami harus memberi alasan, jika dia datang menuntut?karena Pangeran Kiu putera tertua dari almarhum Raja kita!”
”Sudah beruntun dua Raja Cee terbunuh, jika kita tidak mendapatkan seorang Raja yang pandai, pasti negara ini tetap kacau,” kata Pao Siok Gee. ”Ingat, mana boleh kalian menyambut Pangeran Kiu, pada hal yang sampai lebih dahulu Pangeran Siao Pek. Apakah ini bukan takdir Allah maunya begitu? Lebih jauh pikirlah, Raja Louw yang mengantarkan Pangeran Kiu pulang. Aku yakin dia bermaksud buruk, dan ingin menjadi raja di sini. Apa kalian lupa dulu. Ketika Raja Song mengangkat Pangeran Tut menjadi raja di negeri Cee. Tidak henti-hentinya dia minta suap, sehingga pecah perang bertahun-tahun lamanya. Ingatlah, negeri kita sudah lama dalam keadaan susah. Apakah kalian kelak mau menuruti perintah dari Raja Louw?”
”Tetapi bagaimana caranya kita mengucapkan terima kasih kepada Raja Louw yang mau bersusah-patah mengantarkan Pangeran Kiu kemari?” tanya pula salah satu menteri yang lain. ”Kita sudah punya Raja yang baru, yaitu Pangeran Siao Pek. Dengan demikian pasti dia akan mundur sendiri jika dia tahu hal ini!” sahut Pao Siok Gee.
”Kami kira omongan Pao Siok Gee benar sekali!” kata Sek Peng dan Tong Kok Gee. Semua menteri ikut menyetujui rencana itu. Mereka setuju akan mengangkat Pangeran Siao Pek menjadi raja di negeri Cee.
Pangeran Siao Pek segera diundang ke dalam kota Lim-cu. Kemudian dia dinobatkan menjadi raja dengan gelar Cee Hoan Kong. Selesai pengangkatan Pao Siok Gee membisiki agar berlaku bijaksana.
Dalam sidang, Raja Cee Hoan Kong mengeluarkan perintah. Dia minta semua panglima perangnya mengatur penjagaan. Kemudian Raja Cee Hoan Kong memerintahkan Tiong Sun Ciu pergi menemui Raja Louw Cong Kong. Maksud kepergiannya untuk memberitahukan bahwa di negeri Cee sudah ada raja baru.
Siao Pek pulang ke negeri Cee
Koan Tiong yang memimpin tentara pinjaman dari negeri Louw, siang dan malam dengan cepat berjalan menuju ke negeri Cee. Ketika sampai di Cek-pek, dia mendengar khabar bahwa tentara dari negeri Ki sudah lewat di tempat itu. Waktunya sudah cukup lama juga. Koan Tiong kaget dia buru-buru memacu kudanya dengan cepat. Niatnya menyusul tentara Ki yang sudah ada di depannya. Sesudah berjalan tiga puluh li lebih, barulah dia bertemu dengan tentara negeri Ki. Ketika itu mereka sedang istirahat. Tampak tentara Ki sedang masak nasi.
Melihat Siao Pek sedang duduk di dalam kereta, Koan Tiong maju ke dapan Pangeran Siao Pek dan memberi hormat.
”Kong-cu, sejak berpisah dulu apakah Anda baik-baik saja? Sekarang Kong-cu (Pangeran) hendak pergi ke mana?” tanya Koan Tiong.
”Ya, aku selalu sehat walafiat. Sekarang aku hendak pulang ke negeri Cee untuk menjenguk ayahku yang katanya sudah wafat,” sahut Siao Pek.
”Pangeran Kiu lebih tua dari Anda. Seharusnya dia yang memimpin upacara berkabung Ayahanda kalian. Maka aku harap Kong-cu bersedia menunggu sebentar sampai dia datang bertemu dengan Kong-cu di sini. Dengan demikian Kong-cu tidak cape sendiri,” kata Koan Tiong.
Koan Ting bermaksud hendak mengakali Pangeran Siao Pek.
”Ha, ha, ha, pandai sekali Koan Tiong bicara!” kata Pao Siok Gee.
Ketika itu Pao tidak jauh dari situ. Sambil tertawa dia keras berkata pada Koan Tiong. ”Ayo, lekas kau mundur! Kita wajib membela junjungan kita masing-masing!” Tentara negeri Ki pun kelihatan geram dan garang-garang mereka siap maju jika diperlukan.
Melihat tentara negeri Ki matanya melotot semua dan alisnya berdiri. Mereka seperti hendak menggerakkan tangan dan menyerang; Koan Tiong jadi khawatir. Dia sadar jumlah tentaranya sangat sedikit. Jika terjadi pertempuran, pasti mereka akan kalah. Kemudian Koan Tiong pura-pura menurut dan pergi. Tetapi tiba-tiba sambil melompat ke atas kudanya, Koan Tiong segera mengeluarkan busur dan anak panah. Dia membidik dan menarik tali busur. Anak panahnya dia tujukan ke arah Pangeran Siao Pek. Ketika busur panah menjeprat, terdengar Siao Pek berteriak kesakitan. Dari mulut Siao Pek segera menyembur darah segar! Dia muntah darah dan jatuh dari atas kereta yang dinaikinya.
Pao Siok Gee buru-buru menolongi junjungannya itu.
”Celaka!” teriak Pao Siok Gee.
Mereka menangis tersedu-sedu. Melihat kejadian itu Koan Tiong memimpin tentaranya segera pergi. ketika itu Koan Tiong menduga Pangeran Siao Pek sudah binasa. Dengan demikian Pangeran Kiu akan mendapat rejeki menjadi raja di negeri Cee. Koan Tiong memacu kudanya untuk menemui Raja Louw bersama Pangeran Kiu dan rombongannya.
Tatkala Koan Tiong sudah bertemu dengan pasukan Raja Louw, dia memberitahu Raja Louw, apa yang sudah terjadi atas Pangeran Siao Pek. Kemudian dia suguhkan secawan arak pada Pangeran Kiu sebagai tanda ucapan selamat. Sesudah itu baru mereka meneruskan perjalanannya dengan harapan besar.
Lao Pek memutuskan pulang ke negeri Cee
Di negeri Ki......
Ketika itu Pangeran Siao Pek sudah mendengar khabar di negeri Cee telah terjadi huru-hara dan ayahnya telah binasa. Tetapi si pengkhianat Kong-sun Bu Ti sudah binasa juga. Dan sampai saat ini belum diangkat raja baru sebagai penggantinya. Kemudian dia berunding dengan Pao Siok Gee. Mereka mencari akal dan apa yang harus mereka lakukan. Dalam perundingan diputuskan bahwa Siao Pek harus segera pulang ke negeri Cee untuk menerima kedudukkan bekas ayahnya. Beruntunglah Siao Pek, ketika dia meminjam tentara dari negeri Ki, dia mendapat pinjaman sebanyak seratus kereta perang dan tentara dari Raja Ki. Sesudah mendapat kekuatan maka berangkatlah Lao Pek dengan diiringkan oleh pasukan Ki untuk pulang ke negeri Cee.
Kon-sun Bu Ti terbunuh
Di tempat lain pada waktu yang sama, Yong Lim dengan membekal sebilah pisau kecil yang tajam luar biasa, datang ke istana. Dia langsung menemui Kong-sun Bu Ti. Sesudah bertemu dengan Kong-sun Bu Ti, Yong Lim langsung melapor.
”Celaka Tuanku!” kata Yong Lim.
”Hai ada apa? Kau tiba-tiba datang begitu gugup dan ketakutan?” kata Kong-sun Bu Ti.
”Celaka Tuanku. Pangeran Kiu telah mengerahkan tentara dari negeri Louw! Dia akan
menyerang ke negeri Cee. Tidak lama lagi mereka akan segera sampai di sini. Apa akal kita? Kita harus segera mengatur penjagaan yang kuat supaya negeri ini selamat!” kata Yong Lim.
Mendengar khabar itu Kong-sun Bu Ti yang memang bodoh dan penakut sangat terkejut.
Dengan jantung berdebar-debar dia berkata, ”Kok Kiu Lian Ceng ada di mana?”
”Kok Kiu dan Kwan Tay-hu sedang berpesta di luar kota belum bisa pulang. Tetapi semua
pembesar sudah berkumpul di istana. Mereka sedang menunggu Cu-kong (Tuanku) tiba untuk merundingkan masalah ini.” kata Yong Lim pura-pura gugup dan panik.
Kong-sun Bu Ti percaya saja pada omongan Yong Lim. Buru-buru dia bergegas akan ke
istana. Tetapi baru saja sampai, sebelum sempat duduk dengan sempurna, semua menteri serempak maju. Tiba-tiba Yong Lim yang ada di belakang Kong-sun Bu Ti, menikam punggung Bu Ti dengan pisau kecil di tangannya. Saat itu juga dia binasa.
Kong-sun Bu Ti naik tahta menjadi raja cuma sebulan lamanya.
Nyonya Lian, yaitu bekas isteri muda Raja Cee Siang Kong almarhum yang direbut oleh
Kong-sun Bu Ti, mendengar khabar telah terjadi huru-hara di istana, dia langsung menjerat lehernya sendiri dan meninggal dengan sangat mengenaskan di dalam istana.
Yong Lim memerintahkan orangnya agar menyalakan api di luar istana. Begitu api menyala asapnya segera mengepul tinggi ke angkasa.
Ketika itu Kho He sedang asyik makan minum bersama kedua pengkhianat Lian Ceng dan
Kwan Ci Hu. Mendengar suara pintu diketuk dan mulai terdengar orang berseru.
”Di luar api sudah dinyalakan!”
Mendengar tanda rahasia ini, Kho He bangun dan lari masuk ke dalam kamarnya.
Lian Ceng dan Kwan Ci Hu tidak mengerti apa maksud tuan rumah berlari ke dalam
kamarnya. Baru saja mereka hendak ikut mengejar,dan ingin bertanya pada Kho He. Orang-orang Kho He yang gagah dan tadi bersembunyi di suatu tempat. Secara bersamaan mereka keluar. Mereka langsung melabrak dan mencincang kedua pengkhianat itu. Tubuh mereka berdua menjadi beberapa potong. Para pengikut dua pengkhianat itu karena tidak membawa senjata, saat itu semua dihabisi jiwanya.
Tidak berapa lama Yong Lim dan menteri-menteri lainnya telah datang ke gedung keluarga Kho. Mereka segera mengadakan pertemuan. Dalam pertemuan itu telah diambil keputusan, bahwa kedua pengkhianat itu harus dibedah perutnya dan dikeluarkan hatinya untuk menyembahyangi arwah almarhum Raja Cee Siang Kong. Lalu diperintahkan agar orang pergi ke istana Kouw-hun, yaitu tempat Raja Cee Siang Kong dibinasakan, yaitu ketika beliau sedang pergi berburu. Orang-orang itu diperintahkan untuk mengambil jenazah Raja Cee Siang Kong yang akan dikuburkan kembali dengan upacara raja-raja. Kemudian dikirim utusan pergi ke negeri Louw untuk menyambut kedatangan Pangeran Kiu yang akan diajak pulang ke negeri Cee.
Ketika utusan dari negeri Cee sampai ke negeri Louw dan mereka memberitahukan kepada Raja Louw Cong Kong, tentang maksud kedatangan mereka, Raja Louw Cong Kong sangat girang. Beliau berjanji akan mengerahkan angkatan perangnya untuk mengantarkan Pangeran Kiu.
Tetapi sebelum niat itu dilaksanakan salah seorang menteri negeri Louw, yang bernama Si Pek, segera mencegah niat Raja Louw Cong Kong itu.
”Negeri Cee dan negeri Louw masing-masing ingin berebut kekuasaan dan kedudukan.
Sekarang negeri Cee tidak punya raja, ini hamba rasa suatu kesempatan baik bagi negeri Louw.”, kata Si Pek.
”Apa maksudmu, lalu apa yang harus aku lakukan?” tanya Raja Louw.
”Sebaiknya Tuanku buat supaya keadaan di negeri Cee menjadi bertambah kacau.” jawab Si Pek.
Mendengar nasihat ini Louw Cong Kong termenung sejenak. Tiba-tiba Louw Cong Kong jadi sangsi. Dia tidak tahu bagaimana harus mengambil keputusan. Ketika itu Ibusuri Bun Kiang, ibu Louw Cong Kong atau adik perempuan Cee Siang Kong, ketika mendapat khabar Raja Cee Siang Kong sudah terbunuh, dari Ciok-kiu dia segera pulang ke negeri Louw.
Siang dan malam dia bujuk anaknya supaya mengerahkan angkatan perang untuk menyerang ke negeri Cee. Dia minta puteranya membinasakan Kong-sun Bu Ti. Maksud Bun Kiang untuk membalas dendam pada musuh kakaknya. Tetapi setelah mendapat khabar Kong-sun Bu Ti sudah mati. Bahkan utusan dari negeri Cee datang untuk menyambut Pangeran Kiu supaya pulang. Alangkah senangnya Ibusuri Bun Kiang. Kemudian dia desak agar Raja Louw Cong Kong segera mengantarkan Pangeran Kiu, anak kakaknya atau keponakannya ke negeri Cee.
Oleh karena ibu Raja Louw sangat memaksa, Raja Louw Louw Cong Kong jadi bimbang.
Maka nasihat Si Pek tidak dihiraukannya. Dia pimpin 300 kereta perangnya dan beribu-ribu tentara Louw. Dia angkat Co Moay menjadi kepala perangnya. Cin Cu dan Liang Cu menjadi pembantu di bagian kiri dan di kanan pasukannya. Iringkan Pangeran Kiu ini berangkat menuju ke negeri Cee.
Di tengah perjalanan Koan Tiong yang ikut pulang berkata kepada Raja Louw.
”Pangeran Siao Pek ada di negeri Ki, dari negeri Ki ke negeri Cee jaraknya lebih dekat daripada dari negeri Louw ke negeri Cee. Jika Siao Pek sudah masuk lebih dahulu ke ibukota, niscaya Cu-kong-ku akan kehilangan haknya. Karena itu aku mohon supaya aku diberi kuda yang baik agar aku bisa berjalan lebih dahulu untuk mencegah Siao Pek bisa merebut kedudukan Cu-kong-ku.” kata Koan Tiong.
”Ya, pendapatmu benar, kalian mau memakai tentara berapa banyak?” kata Louw Cong
Kong.
”Tiga puluh kereta perang saja sudah cukup,” sahut Koan Tiong.
Setelah Koan Tiong menerima apa yang dia minta, segera dia berangkat dengan cepat.
Lian Ceng dan Kwan Ci Hu dijamu Menteri Kho He
Ketika waktu yang ditetapkan telah tiba. Lian Ceng dan Kwan Ci Hu datang ke rumah Kho He. Mereka disambut dengan gembira oleh menteri tua tersebut. Kemudian mereka
dipersilakan masuk ke dalam rumah. Di ruang tengah telah diatur sebuah meja makan yang penuh dengan santapan yang lezat-lezat.
Sesudah Kho He mempersilakan kedua pengkhianat itu duduk dan mereka sudah duduk dan langsung bersantap. Kho He memegang cawan arak sambil tersenyum manis. Kemudian Kho He berkata, ”Raja Cee Siang Kong almarhum telah berbuat banyak hal yang tidak patut,
sehingga siang dan malam aku khawatir negeri Cee akan musnah. Ternyata sekarang! Semua benar-benar terjadi. Beruntung Ji-wi Tay-hu (Anda berdua Menteri) sudah bisa menjatuhkan Raja Cee Siang Kong. Bahkan sudah bisa mengangkat Raja yang baru. Dengan demikian maka aku pun bisa menjaga dan memelihara tempat abu leluhur sendiri dengan tenteram. Tempo hari lantaran aku sedang tidak enak badan, sehingga aku tidak bisa turut menghadap ke istana. Sungguh aku merasa sangat menyesal. Sekarang untung badanku sudah mulai sehat, maka aku suguhkan arak ini untuk membalas budi kalian berdua yang besar. Lebih jauh aku ingin menitipkan anak cucuku pada kalian berdua.”
Lian Ceng dan Kwan Ci Hu bersikap sangat hormat dan merendah, tetapi mereka senang
sekali dipuji begitu. ”Hamba berdua tidak berani menerima pujian yang begitu besar dariTuan.” kata mereka.
Tengah makan minum Kho He memerintahkan pada anak buahnya agar mereka menutup
rapat pintu rumahnya. ”Hari ini aku mau minum arak sepuas-puasnya.” kata Kho He.
Tetapi dengan diam-diam dia berpesan pada si pengawal pintu, ”Kau jangan melaporkan segala khabar yang datang dari luar, tetapi harus menunggu jika di dalam kota sudah dinyalakan api, baru kau boleh datang melapor kepadaku.” kata Kho He lagi sambil berbisik.
Cee Han Hong 4
Pada tahun Louw Cong Kong ke-dua belas.....
Waktu itu tepat pada musim Cun (semi) di bulan Ji-gwe (bulan 12). Ketika itu Kong-sun Bu Ti sudah menjadi raja di negeri Cee. Seluruh pejabat baik sipil dan militer waktu itu hendak memberi selamat kepada raja baru itu. Ketika itu mereka sudah berkumpul di kamar samping istana sedang menunggu waktu dibukanya persidangan. Di ruang tunggu tersebut tingkah-laku Lian Ceng dan Kwan Ci Hu sangat angkuh dan sombong. mereka pikir mereka berdualah yang telah membantu Kong-sun Bu Ti menggulingkan Cee Siang-kong. Lantaran jasa mereka berdua Cee Siang Kong binasa. Kemudian Kong-sun Bu Ti pun naik tahta menjadi raja. Mereka pikir pahala mereka sangat besar. Tidak mengherankan jika tingkah mereka jadi sombong, dan tidak memandang sebelah mata pada menteri lain yang juga ikut berjasa.
Sebagian besar menteri-menteri jadi sangat benci kepada kedua menteri yang congkak itu. Kebencian mereka itu terlihat jelas dari tingkah mereka.Yong Lim mengerti bagaimana keadaan dan perasaan para menteri itu. Dengan sengaja dia berkata kepada rekan-rekannya itu, ”Tadi aku dengar ada tamu yang datang dari negeri Louw. Tamu itu bercerita bahwa Pangeran Kiu hendak meminjam tentara dari negeri Louw akan menyerang ke negeri Cee.Apakah Tuan-tuan sudah mendengar khabar itu?”
Semua pembesar di tempat itu saling pandang di antara mereka. Mereka bilang, ”Kami tidak tahu mengenai khabar itu.”
Sebelum Yong Lim melanjutkan ceritanya lebih jauh, lonceng istana sudah terdengar
dibunyikan. Lonceng sebagai tanda Kong-sun Bu Ti sudah duduk di atas tahtanya. Maka
semua pembesar lantas masuk ke dalam istana untuk memberi selamat. Setelah upacara pengangkatan raja baru itu selesai dijalankan, persidangan pun ditutup. Semua pembesar keluar dari istana. Sebagian besar menteri itu tidak segera pulang ke rumahnya. Mereka langsung ke rumah Yong Lim. Mereka mau minta keterangan lebih jauh tentang khabar Pangeran Kiu yang hendak memerangi negeri Cee. Sesudah mereka berkumpul, salah seorang langsung bicara.
”Benarkah apa yang Tuan katakan di istana tadi? Apakah benar Pangeran Kiu suidah siap menyerrang negeri ini?” tanya salah seorang pembesar.
Yong Lim tidak langsung menjawab, malah dia berbalik bertanya.
”Jika benar Kong-cu Kiu datang membawa angkatan perang yang dipinjam dari negeri Louw dan menyerang negeri Cee. Apa pendapat Tuan-tuan mengenai hal ini?” tanya Yong Lim.
”Sekalipun Raja Cee Siang Kong almarhum tidak bijaksana dan tidak benar saat menjadi raja. Tetapi putera beliau tidak berdosa. Siang dan malam aku mengharap-harap kedatangannya,” kata Tong Kok Gee. Suaranya mantap tetapi agak terisak karena terharu.
Mendengar ucapan Tong Kok Gee, sebagian besar pembesar-pembesar itu meneteskan air mata mereka.”Tadi aku ikut berlutut bukan karena aku tunduk kepada Kong-sun Bu Ti,” kata Yong Lim.
Yong Lim girang karena banyak menteri yang sependapat dengannya.
”Aku diam saja tidak melawan, karena aku belum tahu bagaimana isi hati Tuan-tuan sekalian. Sekarang jika Tuan-tuan suka bahu-membahu menyingkirkan si pengkhianat. Mari kita angkat putera Raja Cee Siang Kong almarhum menjadi raja kita. Perbuatan ini baru bisa dikatakan kita adalah menteri yang setia dan tahu kewajibannya.”
Semua pembesar menyatakan setuju pada pendapat Yong Lim.
”Tetapi bagaimana caranya kau mau melaksanakan masalah ini?” tanya Tong Kok Gee.
”Kho He alias Keng Tiong, seorang menteri yang sudah turun-temurun dari Kerajaan Cee.
Beliau seorang yang cerdas dan pandai. Beliau juga paling ditakuti dan dipercaya oleh semuaorang,” kata Yong Lim. ”Sedang Lian Ceng dan Kwan Ci Hu, dua pengkhianat besar! Malah aku dengar mereka mencoba membujuk Kho He, agar Kho He mau berpihak kepada Kong-sun Bu Ti. Jika mereka berhasil membujuk Kho He ke pihaknya, maka pengaruh akan bertambah besar. Tetapi tahukah tuan-tuan, keinginan mereka tidak terpenuhi. Mereka sangat mendongkol kepada Keng Tiong.”
”Syukurlah kalau begitu,” kata Tong Kok Gee dengan sangat girang. ”Lalu apa akal kita
sekarang?”
”Kita minta pada Kho He supaya dia mengatur sebuah perjamuan. Kemudian mengundang kedua pengkhianat itu datang ke pesta tersebut. Mereka pasti akan sangat girang sekali, karena mereka mengira Kho He bersedia bekerja sa-ma dengan mereka. Mereka pasti akan datang ke pesta itu,” kata Yong Lim ”Nanti aku akan berpura-pura memberi khabar kepada Kong-sun Bu Ti. Akan kukatakan bahwa Pangeran Kiu te-lah mengerahkan angkatan perangnya. Karena dia sangat bodoh dan tidak punya kekuatan, niscaya dia percaya saja pada khabar ini. Nanti jika aku sudah bisa mendekatinya, aku akan menikam hulu hatinya, pasti dia binasa! Kemudian aku akan menyalakan api sebagai pertandaan. Kjo He boleh segera menutup rapat pintu rumahnya. Kemudian membasmi dua pengkhianat itu. Dengan demikian, bukankah urusan ini lantas bisa dibereskan seperti gampangnya membalikkan telapak tangan?”
”Ya, ini salah satu siasat yang sangat bagus!” kata Tong Kok Gee dengan girang, ”Bagi Kho He, sekalipun kami tahu dia sangat benci pada Raja Cee Siang Kong almarhum. Tapi demi kepentingan negeri ini, pasti dia tidak akan menolak membantu. Aku berani jamin, pasti dia akan setuju dengan rencana kita ini.”
Semua menteri turut girang, masing-masing berjanji dan bersedia membantu dengan segenap hati. Tong Kok Gee segera pergi ke rumah Kho He. Dia langsung bicara dengan Kho He dan memberitahukan rencana mereka dan siasat Yong Lim yang hendak mereka atur dan jalankan.
Kho He memang sangat benci kepada kedua pengkhianat dan kepada Kong-sun Bu Ti. Begitu mendengar rencana rekan-rekannya, dia langsung setuju. Dia memerintahkan Tong Kok Gee agar pergi ke rumah Lian Ceng dan Kwan Ci Hu untuk menyampaikan undangannya. Maka bergegaslah Tong Kok Gee ke rumah kedua pengkhianat itu.
Ketika Tong Kok Gee sampai, kedua pengkhianat itu menerima kedatangan Tong Kok Gee
dengan girang. Sesudah berbasa-basi, Tong Kok Gee menyampaikan undangan dari Keng Tiong pada mereka. Tentu saja mereka gembira sekali menerima undangan itu. Mereka langsung berjanji akan datang ke pesta tersebut.
Cee Hoan Hong 3
Suatu ketika Raja Cee Siang Kong dibunuh oleh Kong-sun Bu Ti, kerajaannya dirampas.
Dalam rapat sesudah Kong-sun Bu Ti berkuasa, Kwan Ci Hu usul pada raja baru itu. Dia
minta agar Kong-sun Bu Ti memanggil Koan Tiong untuk dijadikan menteri. Usul itu
diterima oleh Kong-sun Bu Ti. Dia segera memerintahkan orang mengundang Koan Tiong.
Dia minta agar Koan Tiong mau bekerja sama dengannya. Tetapi Koan Tiong menolak ajakan itu. Dengan sengit Koan Tiong berkata, ”Ha, bagus betul tingkah pengkhianat itu! Dia tidak sadar golok yang tajam sudah hampir sampai di lehernya. Malah dia mau merembet-rembet orang lain?!”
Koan Tiong segera berunding dengan Siao Hut untuk mencari akal menghidar dari Kong-sun Bu Ti. Mereka berpendapat negeri Louw negara ibu Pangeran Kiu. Negeri itu tidak ubahnya seperti rumah Pangeran Kiu juga. Mereka lalu mengajak Pangeran Kiu pergi berlindung ke negeri Louw.
Raja Louw Cong Kong menerima baik kedatangan mereka, malah mereka diberi tempat
tinggal di tanah Seng-touw. Makan dan pakain mereka setiap bulannya dikirim sampai cukup.
Cee Hoan Hong 2
Ada peristiwa yang tak senonoh terjadi atas Raja Cee. Setiap kali Cee Siang Kong bertemu dengan Bun Kiang, adik kandungnya, mereka melakukan perselingkuhan. Kelakuan Raja Cee main serong dengan adik kandungnya lama-lama ketahuan juga. Salah seorang Pao Siok Gee yang memergoki mereka. Perbuatan itu oleh Pao Siok Gee dianggap sangat biadab dan memalukan. Suatu hari Raja Cee akan menemui adiknya, Bun Kiang di Tanah Ko.
Mendengar niat Raja Cee ke Tanah Ko, Pao Siok Gee menasihati Raja Cee agar baginda tidak pergi ke sana. Pao Siok Gee juga minta agar baginda mau mengubah kelakuannya. Keadaan lebih buruk lagi, karena adiknya Bun Kiang, sudah menikah dengan raja dari negeri Louw. Tetapi nasihat Pao Siok Gee tidak dihiraukan.
Sesudah Pao Siok Gee resmi menjadi guru Pangeran Siao Pek, dia tetap berusaha ingin
menasihati Raja Cee. Kali ini lewat Pangeran Siao Pek. Dia minta muridnya itu membujuk ayahnya agar mengubah tingkah buruknya.
”Kekejian Maha-Raja sudah tersiar, sehingga rakyat tidak senang,” kata Pao Siok Gee. ”Jika Kong-cu (Pangeran) tidak mencegahnya, aib itu akan bertambah besar! Tetapi jika baginda mau mengubah sikap, keburukan itu bisa agak reda. Tetapi jika usahamu gagal selanjutnya bahaya akan mengancam kita. Seumpama sebuah bendungan air, jika terlalu penuh isinya, pasti airnya meluap. Kemudian menjadi air bah! Maka itu Kong-cu harus memperingatkan Ayahmu.”
Mendengar keterangan gurunya Siao Pek kaget, dia tidak menyangka ayahnya main serong
dengan bibinya. Sesudah berpikir sejenak Siao Pek berjanji akan menasihati ayahnya. Dia berjanji akan berusaha sampai ayahnya itu insyaf.
Suatu saat dia masuk ke istana ayahnya. Dia langsung menemui ayahnya. Sesudah memberi hormat, dengan muka manis Siao Pek berkata, ”Ayah, aku harap Ayah tidak marah, karena aku punya sedikit kata-kata yang hendak disampaikan pada Ayahanda. Sekali lagi mohonAyahanda tidak marah.”
”Katakan, soal apa itu?” kata Raja Cee.
”Seperti khabar yang tersiar di luaran, hamba mendengar gosip tentang kematian Raja Louw.Hamba dengar tuduhan buruk ditujukan kepada Ayahanda. Orang membuat cerita burung tentang Ayahanda. Terutama mengenai pergaulan Ayah dengan kaum lelaki dan perempuan. Hamba dengar orang mencurigai dan menuduh yang bukan-bukan pada Ayah. Hamba rasa lebih baik Ayah membatalkan niat akan pergi ke tanah Ko.” kata Siao Pek.
”Apa kau bilang? Anak kurang ajar!” sentak Cee Siang Kong marah. ”Kau satu anak kecil, mengapa kau berani banyak omong di depanku? Ayo, lekas pergi dari sini!”
Sehabis mengucapkan kata-kata kasar itu, Raja Cee mengangkat kakinya dan menendang.
Dengan sigap Siao Pek mengelak hingga luput dari tendangan ayahnya. Siao Pek buru-buru berlari keluar, terus kabur meninggalkan istana. Kejadian itu buru-buru dia sampaikan kepada Pao Siok Gee.
”Aku rasa orang keji pasti akan mendapat balasan yang setimpal juga,” kata Pao Siok Gee..
”Aku bersedia pergi bersamamu, Pangeran.”
”Pergi ke mana?” tanya Siao Pek bingung.
”Mari kita pergi ke negeri orang. Sementara di sana kita tunggu saat yang baik bagimu, Pangeran!” kata Pao Siok Gee.
”Baik, aku setuju Su-hu. Tetapi pergi ke negeri apa?” tanya Siao Pek.
”Kegembiraan dan bencana di negeri besar tidak menentu, alangkah baiknya jika kita pergi saja ke negeri Ki. Di negeri Ki yang kecil dan letaknya sangat dekat dengan negeri Cee ini.” kata Pao Siok Gee. ”Karena kecilnya negeri Ki, maka negeri itu tidak menarik perhatian. Aku yakin di sana tidak akan ada yang menghina kita. Sedang jaraknya yang dekat dengan negeri Cee, akan memudahkan jika kita akan pulang kampung.”
”Ya, baiklah, aku setuju,” kata Siao Pek.
Begitulah diam-diam mereka meninggalkan negeri Cee. Ketika mendapat laporan Raja Cee
Siang Kong tidak memusingkan kepergian putera dan menterinya itu.
Cee Hoan Kong - 1
Raja negeri Cee bernama Cee Siang Kong. Baginda berputra dua orang. Putra sulungnya bernama Kiu, dilahirkan oleh istri pertama baginda. Istri baginda ini berasal dari negeri Louw. Putra baginda yang ke-dua bernama Siao Pek. Anak ini lahir dari istri ke-dua baginda, seorang putri berasal dari negeri Kiu.
Kedua putra Raja Cee itu dilahirkan dari istri-istri mudanya (selir-selirnya), tetapi kedua putra baginda ini sudah diaku sah sebagai putra Raja Cee. Malah mereka sudah hendak dicarikan guru untuk dipimpin atau dididik dalam ilmu Bun (sastra) maupun Bu (kemiliteran).
Mendengar niat baginda Koan I Gouw alias Koan Tiong sangat tertarik. Dia ingin menjadi guru salah satu dari kedua putra raja tersebut. KoanTiong lalu menemui seorang menteri sahabatnya. Dia bernama Pao Siok Gee. Kemudian mereka membahas niat baginda dengan Pao Siok Gee.
”Putra Raja kita ada dua orang,” kata Koan Tiong, ”di kemudian hari mereka pasti raja. Jika bukan Kiu, pasti Pangeran Siao Pek. Bagaimana jika kita masing-masing mendidik salah seorang dari mereka? Jika di kemudian hari mereka sudah siap manggantikan ayahnya. Kita lihat, siapa di antara mereka yang beruntung?”
”Baik, aku setuju pada pendapatmu itu,” jawab Pao Siok Gee.
Mereka sepakat akan mendidik salah seorang dari kedua pangeran itu. Kemudian Koan Tiong dan Siao Hut menemui Raja Cee. Mereka memohon agar mereka diizinkan menjadi guru Pangeran Kiu. Begitu juga Pao Siok Gee. dia juga memohon untuk menjadi guru Pangeran.
Siao Pek. Permohonan kedua menteri yang akhli dan pandai itu diluluskan oleh Cee Siang Kong.
Sejak saat itu kedua pangeran belajar di bawah pimpinan Koan Tiong dan Pao Siok Gee.
Pangeran Siao Pek belajar di bawah pimpinan Pao Siok Gee dan Pangeran Kiu belajar di
bawah pimpinan Koan Tiong.
Prolog bagian I: Prahara
Prahara kembali menghantam bangsa Indonesia dalam siklus 30 tahunan. Kemelut politik pada pertengahan dekade 1960-an kembali berulang menjadi krisis multidimensional yang diawali dengan adanya krisis moneter pada pertengahan 1997.
Salah urus kenegaraan memasuki tahun 1960-an, telah membawa Indonesia dalam kesulitan ekonomi yang sangat berat. Inflasi mencapai 650 persen. Korupsi merajalela. Barang kebutuhan pokok sehari-hari mengalami kelangkaan di mana-mana. Kondisi buruk tersebut diperparah oleh krisis politik yang akhirnya memuncak pada tragedi nasional dengan korban jiwa banyak orang pada tanggal 30 September 1965.
Melalui usaha keras disertai bantuan negara-negara donor, Indonesia akhirnya berhasil bangkit kembali. Selama tiga dasawarsa berikutnya, Indonesia menikmati pertumbuhan ekonomi yang mengesankan, bahkan disebut sebagai Negara Asia Berkinerja Tinggi oleh Bank Dunia.
Memasuki dasawarsa 1990-an, pemerintahan Orde Baru mulai menampakkan kekurangan-kekurangannya yang mendapat kritik tajam, karena pemerintahan yang terlalu sentralistis, serta munculnya korupsi, kolusi, dan nepotisme secara signifikan. Tetapi, semua kritik tersebut tidak mendapat perhatian yang serius dari pemerintahan saat itu. Sementara dalam pembangunan perekonomian di Indonesia, tampak pertumbuhan yang sangat pesat, bahkan dalam laporan tahunan 1997, Bank Dunia masih meramalkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tingkat rata-rata 7,8 persen.
Dalam pertumbuhan ekonomi yang tinggi itu, pada pertengahan 1997, timbullah krisis moneter di mana situasi semakin tidak terkontrol dan berkembang menjadi krisis multidimensional berkepanjangan di berbagai bidang. Efeknya sangat menyengsarakan rakyat.
Krisis moneter yang terjadi di Indonesia adalah efek domino dari krisis serupa yang dimulai dengan menurunnya nilai mata uang Thailand baht terhadap dolar AS pada 2 Juli 1997, dari 24,7 baht per dolar AS menjadi 29,1 baht per dolar AS. Puncak krisis moneter di Thailand tersebut adalah penutupan 56 dari 58 lembaga keuangan utama pada 8 Desember 1997.
Krisis penurunan nilai mata uang bath diikuti negara-negara Asia Tenggara dan Asia Timur lainnya, seperti Filipina, Malaysia, Indonesia, dan Korea Selatan. Negara-negara ini diperkirakan memiliki struktur perekonomian tidak jauh berbeda dengan Thailand. Krisis memicu pelarian modal asing dari negara-negara tersebut, membuat sistem perbankan di negara-negara tersebut ambruk satu demi satu.
Pengantar Detik-detik yang menentukan
Detik-detik yang menentukan, Jalan Panjang Indonesia menuju demokrasi, ditulis oleh Bacharuddin Jusuf Habibie, diterbitkan THC Mandiri, Desain Kulit: Anom Hamzah, Layout: M. Ilyas Thaha, Cetakan Pertama September 2006, Cetakan Kedua September 2006
Diterbitkan oleh:
THC Mandiri
Jl Kemang Selatan No. 98 Jakarta 12560 - Indonesia
Tel: 6221 7817211, Fax: 6221 7817212
www.habibiecenter.or.id, E-mail: thc@habibiecenter.or.id
Pengantar
Sejumlah buku sudah terbit dan mengungkapkan sejarah politik kontemporer Indonesia, khusus masa lahirnya reformasi yang ditandai dengan mundurnya Presiden Soeharto dari gelanggang politik di Indonesia. Buku-buku tersebut —beberapa di antaranya ditulis oleh pelaku sejarah— telah membantu kita menelaah sejarah perpolitikan di Indonesia, dalam sebuah kurun waktu tertentu. Tetapi, sejujurnya, buku yang ditulis secara deskriptif dengan berbagai sumber-sumber utama dan sekunder itu, belum lengkap mengungkapkan apa yang sebetulnya telah terjadi.
Dengan kehadiran buku Detik-Detik Yang Menentukan, Jalan Panjang Indonesia Menuju emokrasi, ditulis oleh Bacharuddin Jusuf Habibie, Presiden ke-3 RI, semakin melengkapi khazanah sejarah politik kontemporer Indonesia. Bacharuddin Jusuf Habibie, salah seorang pelaku utama sejarah pada masa lahirnya reformasi di Indonesia. Fakta yang dihadirkan dalam buku ini otentik, berdasarkan catatan dan pengalaman pribadi pelaku sejarah yang belum pernah diungkapkan. Fakta yang ada, tidak diberi “hiasan” dan “warna”, tetapi disampaikan seperti apa adanya.
Selain memberikan fakta-fakta sejarah, penulis pun melakukan analisis apa yang telah terjadi. Penulis memberikan penilaian dan penjelasan tentang langkah-langkah serta gagasan maupun keputusan penting yang telah diambilnya dalam gaya penulisan inner dialog. Sebuah percakapan dengan diri dan hati nuraninya dalam menghadapi sebuah peristiwa atau kejadian yang dihadapinya. Tidak hanya itu, beberapa bagian tulisan, disuguhkan berupa “dramatisasi” beberapa peristiwa, selain suspensi, dengan gaya khas penulisnya membuat pembaca buku ini seperti membaca sebuah novel.
Dengan latar belakang profesi penulis sebagai insinyur, ditambah pengalaman sebagai salah seorang tokoh sentral dalam pemerintahan lebih dari dua dekade, Bacharuddin Jusuf Habibie, mendemonstrasikan secara unik, bahwa pemikiran dan analisis yang menghasilkan kebijakan penting pada masa-masa pemerintahannya, berlandaskan sejumlah “model” yang dikembangkannya sendiri. Model-model itulah yang menuntun dan menjadi pegangannya dalam membuat analisis sebelum menentukan sebuah tindakan dan kebijakan. Kerena itu, pelaku sejarah ini yakin, tidak satu pun kebijakan yang diambilnya dilakukan secara acak atau random. Itulah sebabnya, Bacharuddin Jusuf Habibie melaksanakan tugas-tugasnya secara konsisten dan konsekuen. Tindakan tersebut terbentuk oleh motivasi yang dilandasi nilai agama dan budaya yang telah melekat pada dirinya. Nilai itu pula telah menjadi prinsip hidup dan menjadi karakter pribadinya.
Dalam episode sejarah pemerintahannya, pelaku sejarah selamat mentransformasi sistem kekuasaan otoriter ke sistem demokrasi. Menyelamatkan negara dan bangsa Indonesia dari ancaman —seperti yang ditulis dalam buku ini— proses “Balkanisasi” dan “perang saudara”,sebagaimana yang terjadi pada beberapa negara dan bangsa lain, yang harus membayar reformasi dan demokratisasi dengan amat mahal, pecah berkeping-keping oleh perang saudara. Karena itu, tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa dalam sejarah politik di Indonesia reformasi telah terjadi, tetapi akan menjadi lain hasilnya tanpa kehadiran Bacharuddin Jusuf Habibie.
Bacharuddin Jusuf Habibie baru mengungkapkan sebagian kecil dalam buku ini. Sebagai pelaku utama sejarah pada masa kelahiran reformasi, ribuan halamanan lainnya —yang masih dalam bentuk tulisan tangan— masih disimpannya dan hanya akan dikeluarkan pada suatu masa kelak.
Fakta dan ungkapan yang ada dalam buku ini, hanyalah “detik-detik” yang dianggap penting dan bisa dipublikasikan, tanpa dampak politik yang akan memengaruhi jalannya reformasi di Indonesia. Buku ini ditulis berdasarkan catatan harian yang menjadi kebiasaannya sejak kecil, serta laporan yang diterimanya.
Mengenai judul buku “Detik-detik yang Menentukan: Jalan Panjang Menuju Demokrasi”, menurut penulis dipilih berdasar pertimbangan bahwa semasa menjabat sebagai presiden, penulis menyadari bahwa Indonesia sedang berada pada “persimpangan jalan”, suatu keadaan yang kritis, yang kalau ia mengambil kebijakan (jalan) yang salah, akan dapat berakibat perang saudara atau balkanisasi. Ia memilih suatu proses evolusi yang dipercepat dengan perencanaan yang matang, sebagai upaya penyelamatan bangsa dari situasi kritis tersebut.
Penulis banyak mengambil keputusan yang tidak popular, baik yang bersifat irreversible —seperti masalah Timor Timur, kemandirian Bank Indonesia, dsb.— maupun yang bersifat reversible. Keputusan tersebut diambil dengan cepat dangan memperhitungkan sekecil mungkin risiko yang mungkin terjadi. Itulah mengapa Penulis memilih istilah “Detik-detik yang Menentukan”.
Sementara “Jalan Panjang Menuju Demokrasi” dipilih karena apa yang dilakukannya tersebut merupakan bagian yang menentukan dari suatu proses demokratisasi Indonesia, yang masih dan akan terus berlangsung sampai tata-kehidupan yang dicita-citakan bangsa Indonesia terapai.
Isi buku ini —sebagai bagian dari catatan pribadi pelaku sejarah— akan menjadi sebuah unit sejarah yang penting, bagian dari “mosaik” episode sejarah bangsa Indonesia yang panjang dan berkelanjutan.
Struktur buku ini terdiri dari dua bagian utama. Tulisan inti terdapat pada Bab I sampai dengan Bab IV, selebihnya Prolog dan Epilog. Bab I sampai Bab IV dibuat oleh penulisnya sebagai pelaku sejarah, sementara Prolog dan Epilog, ditulis oleh sebuah tim, berdasarkan fakta dari berbagai sumber tertulis, serta pendapat dan analisis dari sejumlah pelaku sejarah lain yang terlibat langsung dalam reformasi.
Mengapa baru enam tahun lebih setelah masa kepresidenannya Penulis mempublikasikan catatannya?
Dari penjelasan penulis, diketahui ada dua alasan mengapa buku ini baru diterbitkan.
Pertama , Penulis ingin agar buku ini dapat ikut membantu terciptanya situasi kondusif bagi proses tranformasi bangsa menuju kehidupan demokrasi. Mengingat sebagian isinya dapat “mengganggu” apabila diterbitkan terlalu dini, maka penulis memilih waktu yang tepat untuk menerbitkannya, yaitu tatkala proses konsolidasi demokrasi bangsa telah semakin mantap, yang antara lain ditandai dengan terlaksananya pemilihan pimpinan (nasional dan daerah) secara langsung oleh rakyat, melalui pemilihan yang jujur dan adil.
Kedua, sebagaimana diketahui, kurang dari sebulan setelah menyelesaikan tugas sebagai presiden, penulis bersama keluarga mendirikan The Habibie Center (THC), suatu lembaga kajian yang mandiri dan non-politik sebagai wahana untuk —bersama-sama dengan para koleganya—ikut mengawal proses transformasi bangsa menuntaskan reformasi. Itulah sebabnya THC memfokuskan kegiatannya pada kajian dan advokasi bagi tegaknya kehidupan demokrasi dan hak asasi manusia di Indonesia. Begitu besarnya harapan penulis pada lembaga yang didirikannya ini, sampai-sampai penulis menunda beberapa bulan untuk mengantar istrinya berobat ke Jerman, guna meyakinkan lembaga yang didirikannya itu telah benar-benar berfungsi sebagaimana yang diharapkan. Dan THC inilah —melalui salah satu sayap kegiatannya, PT THC Mandiri— yang dipercaya penulis untuk menerbitkan buku ini.
Melalui penerbit, penulis menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada berbagai pihak yang terlibat dalam penulisan buku ini. Terutama kepada tim editor: Andi Makmur Makka dan Ahmad Watik Pratiknya, serta kepada tim “reader” yang juga memberi masukan untuk penulisan.
Prolog dan Epilog, yaitu: Satrio B. Joedono, Muladi, Dewi Fortuna Anwar, Abdul Malik Fadjar, Sofian Effendi, Haryanto Dhanutirto, Wardiman Djojonegoro, Umar Juoro.
Terima kasih penulis juga disampaikan kepada Ryaas Rasyid, Quraish Shihab, Hermawan K. Dipojono, Hidayat Nurwahid, Robert Elson, dan Bilveer Singh.Begitu pula kepada segenap staf The Habibie Center yang telah turut berpartisipasi mempersiapkan penerbitan buku ini
Buku ini disumbangkan kepada khazanah sejarah Indonesia. Namun, penulis berkeinginan pula mengetahui, bagaimana reaksi orang lain mengenai apa yang telah diungkapkannya. Dengan harapan, buku ini akan memberi motivasi dan stimulus bagi siapa pun untuk menuliskan pula apa yang mereka ketahui dan alami pada masa-masa bersejarah tersebut. Dengan demikian, terbukalah lebih banyak prespektif yang akan memperkaya penulisan sejarah Indonesia khususnya masa reformasi.
Kami menyadari, buku ini belumlah sempurna, karena itu, kami mengharapkan masukan dan saran dari pembaca untuk lebih menyempurnakannya pada edisi-edisi mendatang.
Terima kasih.
Penerbit
Anak-anak Dewa
Dewa Samudera berujar seandainya kita memiliki istri yang seindah burung dan bunga itu, maka kita tidak hanya akan memiliki putra-putra yang kuat, tetapi juga indah. "Ya, kita pun dapat meninggalkan tempat yang membosankan ini karena telah digantikan anak keturunan kita.", sambut Dewa Gunung.
Alkisah, diubahlah burung dan bunga tersebut menjadi seorang putri yang sangat cantik. Dewa Samudera menciptakan dari bunga, dan Dewa Gunung dari burung. Kemudian, kedua dewa tersebut sepakat untuk mengawini kedua putri yang tercipta. Dewa Gunung mengawini putri yang diciptakan Dewa Samudera, Dewa Samudera mengawini ciptaan Dewa Gunung. Karena itulah burung-burung senantiasa mengitari Samudera mencari saudaranya yang dinikahi Dewa Samudera, sementara bunga-bunga tumbuh di pegunungan mendekati saudaranya yang dinikahi Dewa Gunung.
Dari perkawinan para dewa tersebut, masing-masing memiliki 99 orang putra dan 99 orang putri. 99 orang putra Dewa Gunung menikahi 99 orang putri Dewa Samudera, demikian pula sebaliknya. Lalu dengan segera lembah itu pun menjadi penuh.
Pertemuan dua dewa
Dewa Samudera dan Dewa Gunung harus menerima kenyataan bahwa mereka harus menyepi pada tempat yang tidak berpenghuni sedikit pun sebagai akibat kelalaian mereka. Selama seribu tahun, mereka adem-adem saja di tempat masing-masing. Tetapi lama-kelaman mereka bosan juga. Mereka ingin mengadakan pertaruhan sebagaimana yang biasa mereka lakukan di kahyangan.
Seakan dikomando, keduanya bergerak menuju tempat kawannya masing-masing. Dewa Samudera berjalan ke arah gunung, dan Dewa Gunung bergerak ke arah samudera. Konon keduanya akhir bertemu pada sebuah lembah yakni Lembah Pertemuan. Lembah tersebut sangat datar dan luas. Sejauh mata memandang hanya terdapat rerumputan.Satu-satunya pepohonan yang ada adalah batang beringin yang sangat besar yang dedaunannya menutupi empat bagian lembah tersebut. Batang beringin tersebut terletak tepat di tengah-tengah lembah.
"Sudah lama sekali beta ingin bertaruh. Tetapi apa daya, beta terikat dengan tugas beta.", berkata Dewa Gunung.
"Beta pun demikian."
"Beta berpikir, kita harus mencari cara agar keluar dari tempat hukuman ini."
"Semestinya"
"Kita harus menghadap Batara Guru, mohon pengampunan"
"Percuma saja."
"Batara Guru memang menginginkan kita sebagai penjaga benua ini."
Kedua orang itu duduk lesu di bawah batang beringin besar yang rindang itu. Saat itu terdapat seekor burung yang indah sedang mengait sebuah bunga yang sangat indah di kakinya. Kedua dewa itu pun terpana melihat keindahan bunga dan burung itu.
Archives
- October 2005 (1)
- July 2009 (13)
- August 2009 (4)
- September 2009 (2)

